Senin, 17 September 2012

IPS sebagai pendidikan sosial dan kajian sosial

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
            Manusia dan masyarakat merupakan objek kajian yang selalu menarik dan berkembang. Interaksi antar manusia kadang menimbulkan permasalahan yang harus diselesaikan. Pada tataran yang lebih luas, masyarakat beranggotakan manusia dari berbagai suku, agama, warna kulit, dan sebagainya. Semua ini dipelajari dalam IPS. Namun demikian apa ciri interaksi manusia dalam masyarakat yang dikategorikan dalam IPS sebagai ilmu sosial dan sebagai kajian sosial perlu dipahami.
2. Kompetensi Dasar
Mahasiswa-mahasiswi mampu memahami IPS sebagai ilmu sosial dan kajian sosial.
3. Indikator
Pada akhir perkuliahan diharapkan mahasiswa-mahasiswi dapat:
1. menjelaskan IPS sebagai ilmu-ilmu sosial,
2. menjelaskan IPS sebagai kajian sosial, dan
3. menganalisis persamaan dan perbedaan IPS sebagai ilmu sosial dan kajian sosial.
           


BAB II
PEMBAHASAN
A. IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Science)
            Sebelum kita mempelajari IPS sebagai ilmu sosial (social science), kami para penulis jelaskan terlebih dahulu pengertian tentang IPS dan ilmu sosial (social science).
1. Pengertian IPS ( Ilmu Pengetahuan Sosial )
            Istilah ilmu pengetahuan sosial sebagaimana dirancang dalam draf kurikulum 2004 memang membingungkan untuk dicarikan definisinya, karena dalam berbagai literatur, baik yang ditulis oleh ahli dari luar maupun dalam negeri, kita hanya mempunyai istilah ilmu pengetahuan sosial yang merupakan terjemahan dari social studies. Sedangkan nama IPS dalam dunia pendidikan dasar di negara kita muncul bersamaan dengan diberlakukannya kurikulum SD, SMP dan SMU tahun 1975.[1]
Dilihat dari sisi keberlakuannya, IPS disebut sebagai bidang studi “baru”, karena cara pandangnya bersifat terpadu. Hal tersebut mengandung arti bahwa IPS bagi pendidikan dasar dan menengah merupakan hasil perpaduan dari mata pelajaran geografi, ekonomi, ilmu politik, ilmu hukum, sejarah, antropologi, psikologi, dan sosiologi. Perpaduan ini disebabkan mata pelajaran tersebut memiliki objek material kajian yang sama yaitu manusia.[2]
            Bagi sekelompok kecil ahli pendidikan di Indonesia, sebenarnya telah memakai istilah IPS dalam pertemuan-pertemuan ilmiah, jauh sebelum diberlakukannya kurikulum 1975. Nama-nama yang dipergunakan dalam kesempatan ini bermacam-macam, antara lain ada yang memakai istilah Studi Sosial yang dekat dengan istilah aslinya, ada pula yang menyebutnya dengan Ilmu-Ilmu Sosial dan ada pula yang menamakannya Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Namun sejak tahun 1976 nama IPS telah menjadi nama baku. Harus diakui bahwa ide IPS berasal dari literatur pendidikan Amerika Serikat. Nama asli IPS di Amerika Serikat adalah “Social Studies”. Istilah tersebut pertama kali dipergunakan sebagai nama sebuah Komite yaitu “Committee of Social Studies” yang didirikan pada tahun 1913. Tujuan dari lembaga itu adalah sebagai wadah himpunan tenaga ahli yang berminat pada kurikulum Ilmu-ilmu Sosial di tingkat Sekolah Dasar dan Menengah, dan ahliahli Ilmu-ilmu Sosial yang mempunyai minat sama. Nama Komite itulah yang kemudian dipergunakan sebagai nama kurikulum yang mereka hasilkan. Meskipun demikian nama “Social Studies” menjadi makin terkenal pada tahun 1960-an, ketika pemerintah mulai memberikan dana untuk mengembangkan kurikulum tersebut.[3]
            Pada waktu Indonesia memperkenalkan konsep IPS, pengertian dan tujuannya tidaklah persis sama dengan Social Studies yang ada di Amerika Serikat. Mengapa demikian? Karena kondisi masyarakat Indonesia memang berbeda dengan kondisi masyarakat Amerika Serikat. Ini mengisyaratkan adanya penyesuaian-penyesuaian tertentu. Sebenarnya keadaan ini sangat baik, karena setiap ide yang datang dari luar kita terima kalau memang sesuai dengan kondisi masyarakat kita.[4]
            Mulyono Tj. memberi batasan IPS bahwa IPS sebagai pendekatan  interdisipliner (Inter-disciplinary approach)(antar cabang ilmu pengetahuan) dari pelajaran Ilmu-ilmu sosial. IPS merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi sosial, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik, dan sebagainya. [5]
IPS merupakan hasil kombinasi atau hasil pemfusian atau perpaduan dari sejumlah mata pelajaran seperti geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, dan politik. Mata pelajaran tersebut mempunyai ciri-ciri yang sama, oleh karena itu dipadukan menjadi satu bidang studi yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). [6]
Dengan demikian jelas bahwa IPS adalah fusi dari disiplin ilmu-ilmu sosial. Pengertian fusi di sini berarti bahwa IPS merupakan suatu bidang studi utuh yang tidak terpisah-pisah dalam kotak-kotak disiplin ilmu yang ada. Artinya, bahwa bidang studi IPS tidak lagi mengenal adanya pelajaran geografi, ekonomi, sejarah secara terpisah, melainkan semua disiplin tersebut diajarkan secara terpadu. Dalam kepustakaan kurikulum pendekatan terpadu tersebut dinamakan pendekatan “broadfield”. Dengan pendekatan tersebut batas disiplin ilmu menjadi lebur, artinya terjadi sintesis antara beberapa disiplin ilmu.
            Dengan demikian sebenarnya IPS berinduk kepada ilmu-ilmu sosial, dengan pengertian bahwa teori, konsep, prinsip yang diterapkan pada IPS adalah teori, konsep dan prinsip yang ada dan berlaku pada ilmu-ilmu sosial. Ilmu sosial dengan bidang keilmuannya dipergunakan untuk melakukan pendekatan, analisis, dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang dilaksanakan pada pengajaran IPS.
2. Pengertian Ilmu Sosial (Social Science)
            Dari sisi bahasa, ilmu sosial berasal dari bahasa Inggris social science. Kata social berarti sosial sedang kata science bermakana ilmu. Dengan demikian, secara literal social science mempunyai makna ilmu sosial. Dari sisi istilah, sampai saat ini belum terdapat kesatuan pendapat dan rumusan yang jelas di antara para ahli berkenaan dengan batasan atau pengertian social science (ilmu-ilmu sosial).
            Achmad Sanusi memberikan batasan tentang ilmu Sosial sebagai berikut “Ilmu sosial terdiri dari disiplin-disiplin ilmu pengetahuan sosial yang bertaraf akademis dan biasanya dipelajari pada tingkat perguruan tinggi yang makin lanjut dan makin ilmiah”.[7] Sedangkan menurut Gross ilmu sosial merupakan disiplin intelektual yang mempelajari manusia sebagai makhluk sosial secara ilmiah serta memusatkan pada manusia sebagai anggota masyarakat dan pada kelompok atau masyarakat yang ia bentuk.[8]
Selanjutnya Nursid Sumaatnadja ,menyatakan bahwa ilmu sosial adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun tingkah laku kelompok. Oleh karena itu ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat. [9]
Ada bermacam-macam aspek tingkah laku manusia dalam masyarakat, seperti aspek ekonomi, sikap, mental, budaya, dan hubungan sosial. Studi khusus tentang aspek-aspek tingkah laku manusia inilah yang menghasilkan ilmu sosial, seperti ekonomi, ilmu hukum, ilmu politik, psikologi, sosiologi, dan antropologi. Jadi setiap bidang keilmuan itu mempelajari salah satu aspek tingkah laku manusia sebagai anggota masyarakat. Ekonomi mempelajari aspek kebutuhan materi, antropologi mempelajari aspek budaya, sosiologi mempelajari aspek hubungan sosial, psikologi mempelajari aspek kejiwaan, demikian pula bidang keilmuan yang lain. Sedangkan yang menjadi obyek materialnya adalah sama, yaitu manusia sebagai anggota masyarakat.[10]
Sebagai panduan memahami masalah tersebut, di sini dikemukakan beberapa batasan atau pengertian social science.
         The social science is the study of the group life of man. The social scientist is interested in all the form which human relationships take in organized groups.
         The social sciences are these subjects that relate to the origin, organization and development of human society, especially, to man and his association with other man.
v  Social sciences:
1.      the branch of knowledge that deal with human society or its characteristic elements, as family, state, or race, and with the relation and well being as a member of an organized community.
2.      one of a group of sciences dealing with special phases of human society, such as economics, sociology, and politics.
3.      a term some times applied to the scholarly matrials concern with the detailed, systematic, and logical study human being, and their interrelation.
Dari batasan-batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa ilmu-ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari segala aspek kehidupan masyarakat, problem-problem dalam masyarakat, serta bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Senada dengam kesimpulan tersebut, Mukmina (2008 : 7) mendefinisikan ilmu sosial sebagai ilmu yang bidang kajiannya berupa tingkah laku manusia dalam konteks sosialnya. Termasuk dalam ilmu sosial adalah geografi, ekonomi, sejarah, sosiologi, antropologi, psikolog, dan ilmu politik, yang pada umumnya merupakan hasil kebudayaan manusia.[11]
3. Pengertian IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Sciences)
            Terdapat banyak pengertian IPS yang diberikan oleh para ahli. Diantara pendapat tersebut diuraikan berikut.
v  Menurut Nasution (1975), IPS adalah bidang studi yang merupakan fusi atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dapat juga dikatakan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang menggunakan bagian-bagian tertentu dari ilmu sosial.
v  Kurikulum 1975 mendefinisikan IPS sebagai bidang studi merupakan panduan atau fusi dari sejumlah mata pelajaran sosial.
v  IPS adalah bidang studi yang menghormati, mempelajari, mengolah dan membahas hal hal yang berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benar-benar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, dan disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolah-sekolah. (Pedoman IPS-IKIP Surabaya)[12]
v  Tjokrodikarjo (1982) mendefinisikan IPS sebagai perwujudan dari suatu pendekatan interdisiplin dari ilmu-ilmu sosial. Ia merupakan integrasi berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia. IPS dipolakan untuk tujuan-tujuan instruksional dengan materi sederhana, menarik, mudah dimengerti dan dipelajari.[13]
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan, bahwa IPS adalah pelajaran atau bidang studi yang merupakan fusi (paduan) dan integrasi ilmu. Ilmu sosial yang dikemas dengan materi yang sederhana, menarik, mudah dimengerti dan dipelajari untuk tujuan instruksional di sekolah.
Latar belakang dimasukkannya IPS pada kurikulum sekolah di Indonesia (SD/ MI, SMP, dan SMU) berbeda dari hal serupa di Inggris dan Amerika. Perkembangan sekolah di Indonesia terjadi akibat penyelenggaraan sekolah formal selama masa penjajahan. Oleh karenanya, materi pelajaran di sekolah kebanyakan merupakan kelanjutan dari kurikulum pendidikan warisan Belanda dan Jepang.[14]
Alasan Mempelajari IPS
Pengajaran IPS sangat penting bagi jenjang pendidikan dasar dan menengah karena siswa yang datang ke sekolah berasal dari lingkungan yang berbeda-beda. Pengenalan mereka tentang masyarakat tempat mereka menjadi anggota diwarnai oleh lingkungan mereka tersebut. Sekolah bukanlah satu-satunya wahana atau sarana untuk mengenal masyarakat. Para siswa dapat belajar mengenal dan mempelajari masyarakat baik melalui media cetak maupun elektronika, misalnya melalui acara televisi, siaran radio, dan membaca koran. Pengenalan siswa melalui wahana luar sekolah mungkin masih bersifat umum, terpencar-pencar, dan samar-samar. Oleh karena itu agar pengenalan tersebut dapat lebih bermakna, maka bahan atau informasi yang masih umum dan samar-samar tersebut perlu disistematisasikan. Dengan demikian sekolah mempunyai peran dan kedudukan yang penting karena apa yang telah diperoleh di luar sekolah dikembangkan dan diintegrasikan menjadi sesuatu yang lebih bermakna di sekolah sesuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan siswa. [15]
Sesuai dengan tingkat perkembangannya, siswa SD belum mampu memahami keluasan dan kedalaman masalah-masalah sosial secara utuh, tetapi mereka dapat diperkenalkan kepada masalah-masalah tersebut. Melaluipengajaran IPS siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kepekaan untuk menghadapi hidup dengan tantangan-tantangannya. Selanjutnya diharapkan bahwa mereka kelak mampu bertindak secara rasional dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.[16]
Perlu disadari bahwa dunia sekarang telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat cepat di segala bidang. Kemajuan teknologi dan informasi telah mengenalkan kita pada realitas lain dari sekedar realitas fisik seperti yang sebelumnya kita rasakan. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, transportasi, dan komunikasi hubungan antarnegara tetangga menjadi lebih luas, karena dunia seakan-akan menjadi tetangga dekat. Dengan demikian seolah-olah dunia “dipindahkan” ke ruang di dalam rumah sendiri. Dalam hal ini IPS berperan sebagai pendorong untuk saling pengertian dan persaudaraan antara umat manusia. Selain itu juga IPS memusatkan perhatiannya pada hubungan antar manusia dan pemahaman sosial. Dengan demikian IPS dapat membangkitkan kesadaran bahwa kita akan berhadapan dengan kehidupan yang penuh tantangan. Dengan kata lain, IPS mendorong kepekaan siswa terhadap hidup dan kehidupan sosial.
Preston memberikan sejumlah alasan mengapa IPS perlu diberikan sejak tingkat pendidikan dasar. Dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyakmasalah sosial yang luas, kompleks dan sulit yang memerlukan pemecahan. Anak-anak perlu menyadari bahwa mereka hidup dalam keadaan sulit yang tidak mungkin dapat segera diatasi. Untuk itu, cara-cara yang rasional diperlukan sebagai wahana pemecahannya. IPS memberikan berbagai informasi, ide-ide dan metode untuk menyelidikinya, yang dapat memberikan kepuasan, kehidupan intelektual dan meletakkan dasar toleransi bagi kehidupan antar-kelompok.
Jadi alasan mempelajari IPS untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah sebagai berikut.
1.         Agar siswa dapat mensistematisasikan bahan, informasi, dan atau kemampuan yang telah dimiliki menjadi lebih bermakna.
2.         Agar siswa dapat lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial secara rasional dan bertanggung jawab.
3.         Agar siswa dapat mempertinggi toleransi dan persaudaraan di lingkungan sendiri dan antarmanusia.[17]
Berbeda dengan IPS atau social studies, istilah ilmu-ilmu sosial adalah terjemahan dari social sciences. Disamping ilmu-ilmu sosial terdapat pula ilmu-ilmu alam (sciences) dan humanitis/humaniora. Ilmu-ilmu alam mempunyai tiga bagian disiplin ilmu utama yang meliputi Biologi, Fisika, dan Kimia. Sementara humanitis terdiri, antara lain, Sejarah dan Sastra. Semua bidang keilmuan dan humanitis ini berakar pada suatu bidang yang disebut Filsafat. Setiap disiplin ilmu mempunyai filsafatnya masing-masing yang pada akhirnya semua disiplin itu berhulu pada ajaran Agama.[18]
IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Science)
Materi IPS berasal dari fusi dan integrasi ilmu-ilmu sosial yang disesuaikan, disederhanakan, dan dipilih sesuai tujuan intruksional disekolah. Social science merupakan sumber IPS, sebab materi-materi IPS berasal dari ilmu-ilmu sosial atau social science.
B. IPS sebagai Kajian Sosial (Social Studies)
1.Pengertian Kajian Sosial (Social Studies)
Kajian sosial (social studies) pada dasarnya sama dengan ilmu pengetahuan sosial. Dalam sejarahnya, social studies berasal dari Amerika, yang berpenduduk multiras dan budaya, sebagaimana halnya Indonesia. Beberapa pendapat tentang definisi social studies adalah sebagai berikut.
·        Leonard S. Keaworthe mengatakan bahwa social studies are the study ofpeople carried on in order to help student understand themselves andothers in a varieties of societies in different places and at different times as individual and group seek to meet the need through many institutions as those human beings search for a satisfying a personal philosophy and the good society.
·        U.S. Bureau of Education dalam The Social Studies in Secondary Education menyatakan: the social studies are understand to be those whose subject matter relative directly to the organization and development of human society and to man as a member of social group.
·        Edgar B Wesley mengatakan bahwa the social studies are the social sciences simplified for paedagogical purposes in school. The social studies consist of geography, history, economic, sociology, civics and various combination of these subjects.
·        Menurut kurikulum 1975, ilmu pengetahuan sosial adalah bidang studi yang merupakan panduan (fusi) dari sejumlah mata pelajaraan sosial. Di sekolah lanjutan, mata pelajaraan sosial sebagian terpisah ke dalam mata pelajaran yang mandiri seperti geografi dan kependudukan, sejarah, ekonomi dan koperasi, antropologi, serta tata buku dan hitung dagang.
Berbeda dengan ilmu sosial, studi sosial bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah sosial. Dalam kerangka kerja pengkajiannya, studi sosial menggunakan bidang-bidang keilmuan termasuk ilmu sosial. Tentang studi sosial ini Achmad Sanusi memberikan penjelasan bahwa, studi sosial tidak selalu bertaraf akademis universitas, bahkan merupakan bahan-bahan pelajaran bagi siswa sejak pendidikan dasar.[19] Selanjutnya studi sosial dapat berfungsi sebagai pengantar kepada disiplin ilmu sosial bagi pendidikan lanjutan atau jenjang berikutnya. Studi sosial bersifat interdisipliner dengan menetapkan pilihan masalah-masalah tertentu berdasarkan sesuatu referensi dan meninjaunya dari beberapa sudut sambil mencari logika dari hubungan-hubungan yang ada satu dengan lainnya.
Kerangka kerja studi sosial dalam mengkaji atau mempelajari gejala dan masalah sosial di masyarakat tidak menekankan bidang teoretis, melainkan lebih kepada bidang praktis. Oleh karena itu studi sosial tidak terlalu bersifat akademis teoretis, melainkan merupakan pengetahuan praktis yang dapat diajarkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Pendekatan studi sosial bersifat interdisipliner atau multidisipliner dengan menggunakan berbagai bidang keilmuan. Maksudnya bahwa studi sosial dalam meninjau suatu gejala sosial atau masalah sosial dilihat dari berbagai dimensi/sudut/segi/aspek kehidupan. Sedangkan ilmu sosial pendekatannya bersifat disipliner dari bidang ilmunya masing-masing. Kesimpulannya dapat dikatakan bahwa studi sosial lebih memperlihatkan suatu bentuk gabungan ilmu sosial.
Tugas studi sosial, sebagai suatu bidang studi mulai dari tingkat SD sampai ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, adalah membina warga masyarakat yang mampu menyerasikan kehidupannya berdasarkan kekuatan-kekuatan fisik dan sosial dan mampu memecahkan masalah-masalah sosial yang dihadapinya. Oleh karena itu materi dan metode penyajiannya harus sesuai dengan misi yang diembannya.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa social studies atau ilmu pengetahuan sosial adalah studi tentang ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan di sekolah. Tujuan tersebut adalah terciptanya atau terbentuknya warga-warga negara yang baik (good society).
2. IPS sebagai Kajian Sosial (Social Studies)
IPS adalah studi atau kajian masalah-masalah sosial yang berasal dari ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk kepentingan tujuan pendidikan di sekolah yaitu menciptakan warga negara yang baik (good citizen). IPS bukan sekadar pengetahuan, tetapi merupakan ilmu pengetahuan yang disusun dan diorganisasikan secara baik menurut kepentingan pendidikan dan pengajaran. IPS berada di tengah-tengah antara ilmu-ilmu sosial dan pengetahuan sosial.
C. Persamaan dan Perbedaan IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Sciences) dan Kajian Sosial (Social Studies)
1. Persamaan IPS sebagai Ilmu Sosial dan Kajian Sosial
Menurut Edgar B Wesley, persamaan antara social studies dengan social sciences terletak pada sasaran yang diselidiki yaitu manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Keduanya membahas masalah yang timbul akibat hubungan (interrelationship) manusia. Dengan kata lain, keduanya mempelajari masyarakat manusia.[20]
2. Perbedaan Ilmu Sosial dengan Kajian Sosial
Perbedaan penting antara ilmu-ilmu sosial dengan pengetahuan sosial terletak pada tujuan masing-masing. Ilmu sosial bertujuan memajukan dan mengembangkan konsep dan generalisasi melalui penelitian ilmiah, dengan melakukan hipotesis untuk menghasilkan teori atau teknologi baru.
Sementara itu, tujuan ilmu pengetahuan sosial bersifat pendidikan, bukan penemuan teori ilmu sosial. Orientasi utama studi ini adalah keberhasilannya mendidik dan membuat siswa mampu mengerjakan ilmu pengetahuan sosial, berupa tercapainya tujuan intruksional.[21]
Dari uraian tersebut, ilmu pengetahuan sosial menggunakan bagian-bagian ilmu sosial guna kepentingan pengajaran. Untuk itu, berbagai konsep dan generalisasi ilmu sosial harus disederhanakan agar lebih mudah dipahami murid-murid yang umumnya belum matang untuk mempelajari ilmu-ilmu





BAB III
SIMPULAN
1.      Ilmu-ilmu sosial adalah ilmu yang mempelajari segala aspek kehidupan masyarakat, problem-problem dalam masyarakat, serta bertujuan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain, ilmu sosial adalah ilmu yang bidang kajiannya berupa tingkah laku manusia dalam konteks sosialnya.
2.      IPS adalah matapelajaran atau bidang studi yang merupakan paduan dan integrasi ilmu-ilmu sosial yang dikemas dengan materi yang sederhana, menarik, mudah dimengerti dan dipelajari untuk tujuan instruksional di sekolah.
3.      Sebagai social sciences, materi IPS bersumber dari paduan dan integrasi ilmu-ilmu sosial yang telah disederhanakan, disesuaikan dan dipilih sesuai dengan tujuan pembelajaran di sekolah.
4.      Sebagai social studies, IPS bukan sekedar pengetahuan, melainkan ilmu pengetahuan yang disusun dan diorganisasikan secara baik menurut kepentingan pendidikan dan pengajaran. Posisi IPS berada di tengahtengah antara ilmu-ilmu sosial dan pengetahuan sosial.
5.      Persamaan social sciences dan social studies terletak pada sasaran yang diselidiki yaitu manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
6.      Perbedaan social sciences dan social studies terletak pada tujuan masing-masing. Ilmu sosial bertujuan memajukan dan mengembangkan konsep dan generalisasi, sedangkan social studies bersifat pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Achmad Sanusi, Dt. Studi Sosial di Indonesia (Bandung: IKIP. 1971)h.5
[2] Ibid
[3] Rusdi, Muhammad,Pengantar Ilmu Pengetahuan Sosial(Surabaya: Tim IPS FKIS IKIP Surabaya. 1983)h.34
[4] Husein Achmad, dkk Pengantar Ilmu Pengetahuan Sosial(FKIS – IKIP
Jogyakarta. 1981).h.8 unit 1
[5] TJ Mulyono ,Pengertian dan Karakteristik Ilmu Pengetahuan Sosial(Yogyakarta: Departemen P dan K, P3G, 1980)h.8
[6] Saidihardjo,Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial,(FIP IKIP Jogyakarta, 1996)h.4
[7] Saidihardjo,Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial,(FIP IKIP Jogyakarta, 1996)h.2
[8] Kosasih Jahiri, dkk,Pengajaran Studi Sosial/IPS, LPPP -IPS, FKIS –IMP
(Bandung,1979)h.1
[9] Nursid Sumaatmadja., dkk.. Buku Materi Pokok Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial, Modul 1-3. (Jakarta : Karunika, Universitas Terbuka, 1986)h.7
[10] Cheppy, H.C.(tt). Strategi Ilmu Pengetahuan Sosial(Surabaya Karya Anda)
[11] Mukmina,IPS Terpadu(Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. 2008)h.7

[12] Rusdi, Muhammad. Pengantar Ilmu Pengetahuan Sosial.Surabaya(Tim IPS FKIS IKIP Surabaya. 1983)hlm.10 unit 4
[13] Ibid
[14] Husein Achmad, dkk,Pengantar Ilmu Pengetahuan Sosial, (FKIS – IKIP Jogyakarta,1981)h.9
[15] Thamrin Thalut & Abduh M., Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial( Jakarta :
P3G Departemen P dan K. 1980)h.7
[16] Hidayati, M,Bahan Ajar Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar(FKIP Universitas Negeri Jogyakarta, 2004)h.16
[17] Thamrin Thalut & Abduh M. Tujuan Ilmu Pengetahuan Sosial, op.cit,h.8

[18] Prof. Dr. Awan Mutakin,Handout Mata Kuliah Pengantar Ilmu-Ilmu Sosial(Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia,2009)h.34
[19] Achmad Sanusi, Dt,Studi Sosial di Indonesia(Bandung: IKIP,1971)h.18
[20] Mukmina,dkk, Diktat Dasar-dasar IPS(Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta,2002)h.17

[21] Ibid, h.18

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar